Saturday, June 23, 2018

Is this a comeback

Hampir 4 bulan lamanya nggak nulis. Sekarang baru mau nulis lagi karena kemaren nggak punya bahan seru buat ditulis. Topik tulisannya nggak jauh-jauh dari rentetan cerita kehidupan pribadi yang sebenernya selama beberapa bulan terakhir ini datar-datar aja.


Dimulai dari memulai semester 4 kemarin yang secara tidak disadari matkul nya enak semua, kecuali komunikasi antar pribadi. I hate psychological stuffs, how do people able to diagnose others' traits, meanwhile for me, human is the most complex creature ever created? Makanya dapet C+ (hahahaha, semua orang harus tau betapa buruknya gue menghadapi orang lain). Yet I didn't expect much jadi why would I be sad about that though.


Kemudian, mulai semester kemaren, gue berhenti berhubungan dengan beberapa orang yang tadinya sangat dekat di kampus (wow) karena satu dan lain hal. Tapi sekarang udah membaik sih, efek abis lebaran, udah saling minta maaf. Kalo udah ada kata maaf, perlunya di lain waktu itu adalah berhati-hati biar lain kali nggak masuk ke lubang yang sama. Ya, siapa yang mau coba? Kecuali lubangnya isi Disneyland, gue mau kok berulang kali masuk. Tapi ada juga specific person yang diri gue bahkan berjanji untuk nggak pernah menggubris (dengan harapan nggak digubris balik) agar supaya kita tetap menjalankan hidup sebagaimana kita terakhir kenal alias nggak usah kenal lagi deh hehehe. Emang asshole banget ya gue, biarin.


Masuk semester baru (not yet), tapi gue udah mulai bosen sama kampus, sama orang-orangnya. I have my best adventure, sih, di waktu kuliah ini. Belajar mengambil keputusan sendiri, belajar ngapa-ngapain sendiri, belajar nggak menggantungkan diri ke orang lain selain abang Gojek/Grab (karena gue gak punya motor), belajar mencintai tempat yang ternyata jawaban dari doa gue (percaya nggak, gue pernah berdoa untuk keluar dari kota tempat gue lahir & dibesarkan karena gue nggak pernah ngerasain namanya pindah rumah, terus dapet kuliah di luar kota, sedih apa seneng nih ya?), intinya sih, proses pembelajaran, apapun itu yang dipelajarin.


Tambahan, gue tadinya menganggap semua orang itu baik (atau gue emang dipertemukan dengan yang baik-baik aja?) Sampe pada akhirnya, titiknya itu di awal semester 4, teori buatan gue sendiri itu dipatahin sama pengalaman gue sendiri ahahahahaha. Begitu deh. Kalo gue boleh playing victim, mulai semester 4 kemarin, gue nggak percaya sama empati. Menurut gue, orang-orang berempati ya cuma karena merasa itu sebuah formalitas aja tapi nggak bener-bener mengamalkan itu. Wah, gila deh, padahal di semester ini juga, gue banyak dihadapin sama orang-orang baik, tapi gue kemudian mikirnya kayak, "Yaudah, mereka cuma basa-basi. Jangan percaya gitu aja." Gue nggak tau bedain yang bener mana dan yang nggak mana, jadi gue anggep aja semua orang jahat wkwk. Salah banget ya.


Makin tua, makin kompleks juga jalan pikir (semoga jalan hidup semakin mulus wkwk.) Gue sekarang tau, sih, friends whom I can count on, berarti gue juga harus percaya kalo mereka beneran berempati sama gue (semoga aja.) Semoga aja juga, semakin bertambahnya umur, gue semakin tau mau dikemanain hidup ini dan semakin menemukan kebahagiaan in the simplest, smallest form.


Salam, 


Nabila yang sedang mengelu-elukan lautan biru.

No comments:

Post a Comment