Sunday, December 31, 2017

List of People Who Made My 2017 Colorful

An appreciation post to those who made my 2017 well survived:

1. Lia Panggabean: dia sangat berjasa dalam kehidupan perkuliahan gue. Menjalani semester 2 & 3 bersama. Si waras, yang bikin jalan pikir gue tetep jernih. Partner curhat. Though there are several stuffs yang sampe sekarang ada yang belum berani gue ceritain, tapi she knows me heart to heart.

2. Societo crews: produksi film tanpa henti tahun ini. Sewu, Gojak-Gajek, Voca Me.

3. AIESEC: Kak Ipeh, Dinar, Fadil. Terima kasih untuk menjadi orang yang mengingatkan ku bahwa hidup bukan hanya sekedar hal menye-menye dan no need to rush anything. Sans aja boi.

4. Niobium: my summer project team. Memusingkan, melelahkan, namun eternal friendship. My lifetime companion.

5. Hafiz Daulay: berjasa dalam menemani kegabutan saya. Orangnya gak jelas. Makasih kado 1Q84 nya.

6. Rani Garetya: manusia ini menyadarkan saya kalo ada manusia yang lebih bawel daripada teman-teman saya yang lain.

7. Sayyidah Aisyah: my 1AM companion HAHA. Pokoknya curhat apapun sama Ai selalu diterima tanpa cercaan, secacat apapun curhatnya.

8. Fara Sangga: partner terceriwis dan cepat sekali saya akrabnya. Gossip unites us. And the girl we hate too.

Thursday, December 28, 2017

Rentetan cerita semasa semester 3

Halo semua. Gue mau cerita panjang lebar tentang perjalanan semester 3 yang pelik, penuh keluh kesah, menyenangkan (dikit), menyedihkan (banyak), emosional, dan lain sebagainya.

It all started in July. Salah, sebenernya semester 3 nya mulai bulan Agustus akhir, tapi gue udah ke Malang dari tanggal 17 Juli. Pas tanggal segitu, gue sekaligus pindah kos yang hanya berjarak gak sampe 200 meter. Kayaknya gak nyampe. Gue gak ngerti ngitung jarak caranya gimana. Gue dibantuin sama salah seorang temen gue yang sekarang udah gak pernah main bareng lagi karena suatu hal. Hahahahaha, Nabila bisanya bikin permusuhan di dalam sebuah pertemanan, warganet!

Di situ kasusnya gue masih bahagia. Eh, nggak, sih, sedih, soalnya gue meninggalkan rumah lebih cepet, di Malang belum ada siapa-siapa. Waktu itu, orang yang titel nya masih jadi pacar (iya, tahun 2017 gue punya pacar, kaget gak Anda semua), pulang ke Malang karena perihal dia mau jadi panitia ospek fakultas, sedangkan gue mau realization project gue di AIESEC aka ETF aka Enlighten The Future. Jangan tanya gimana project nya, karena yang mau gue omongin adalah semester 3 gue, bukan ETF, jadi ini semacam pengantar gitu sebelum gue cerita tentang apa yang spesial dari semester 3. Jadi, karena waktu itu masih berstatus "in a relationship", jadilah gue gak kesepian amat.

Kalut sama project, gue yang nggak bisa kerja profesional saat itu, akhirnya gue mencekcokan urusan personal things dan professional stuffs gue. Sampe akhirnya berakibat pada kandasnya hubungan gue yang saat itu masih berumur 3 bulan. Skip.

Mulai masuk kuliah, karena dia sejurusan sama gue, maka kemungkinan gue ngelupainnya agak sedikit susah, ya gak sih? Iyalah. Udah ngalamin nih. Sekarang udah all fine, I'm getting stable as time goes by.

Terus, mulailah semester 3 gue. Gue sekelas sama 4 dari 5 temen geng gue. Turned out, it was hella surprising, musingin, nyewotin dan tolong ya teman-teman semua, gue saranin, kalo kalian mau pertemanan kalian awet, jangan KRS an bareng, karena bisa jadi temen kalian cuma enak diajak curhat, tapi sangat nihil dalam ngerjain tugas. Atau nggak, kalian KRS an bareng, tapi jangan sekelompok bareng. Atau, ya, nggak apa-apa, sih, kalo mau sekelompok bareng, tapi pastiin kalo mereka mau kerja/qerja/work/worq.

Surprisingly, gue merasa lancar-lancar aja sampe UTS. Sebenernya nggak lancar-lancar amat juga, sih, kan waktu itu masih galau HAHAHA, tolong tolong. Udah lah, itu Nabila yang kelam.

Skip. Setelah akhirnya gue berangsur-angsur membaik dalam urusan hati, ternyata urusan pertemanan gue berbanding terbalik. Ada konflik internal di dalam geng gue. Yang menyulut konflik adalah gue sendiri juga. Sebenernya bukan cuma gue yang merasa gak nyaman dalam lingkup main gue sendiri, ada temen gue satu lagi, but she didn't have the guts to tell us the truth, it was only me who brought the fire up in the forum dan ternyata, oh, ternyata, mending kalo merasa gak nyaman, perlahan tinggalin daripada diomongin karena sebagian besar dari mereka pun punya self defense dan itu pun akhirnya nggak memperbaiki hubungan yang udah renggang.

There was a moment where I rang a friend of mine at around 1 in the morning, cracking up on the phone, crying endlessly til my eyes were swollen. Karena apa? Karena masalah pertemanan, lagi dan lagi. God, wasn't my love life fucked up enough? Why was my friendship becoming ashes too?

In the end, semuanya sekarang berjalan mulus. Walaupun gue gak balikan, walaupun pertemanan gue gak seakrab dulu lagi, walaupun dan walaupun lainnya. I'm glad I made it through. Semester 3 itu definisi nyakitin batin. 2017, too. Moral value yang gue dapet sebenernya banyak banget di semester ini. Mostly about kind of person I can rely on to and kind of person I would like to open up with. Tapi ya, tidak menutup kemungkinan juga untuk berteman dengan teman dari berbagai antero.

Salam,

Nabila yang sudah selesai UAS
dan siap menyambut liburan.

Sunday, December 03, 2017

December oh December

Hari ini tanggal 3.
My favorite number of all time.
With a really weird, funny reason behind that.


--


Sebenernya gue mau memberikan a little appreciation--more like reward to myself, setelah melewati 11 bulan belakangan kemarin. Terutama dari bulan Agustus sampe November. All I could do was just thinking, analyzing, guessing, being traumatized, highly getting rid of people I don't like, focusing a lot on myself, begitulah.

"Heartbreak changes people"

And I know, at some aspects in my life, I have changed. A bit. Or even the whole me.


Tapi ya, lama-lama, gue nggak mau hidup dalam kesedihan gue, sih. Not even in everyone's grievance. Nggak ada yang mau. That's why I stopped thinking for what happened back then, not looking for closure. And when I stopped looking for closure, the answer just emerged by itself. Terus sekarang gue ketawa-tawa aja. :))


Semoga bulan Desember membawa banyak hal yang bisa bikin gue lebih maju dan coba cepetan akhir Desember ya, tolong, aku pengen pulang ke rumah. :(

Wednesday, November 15, 2017

It's That Time of The Year

It is that time of the month after my despairing-cringe months, where I could finally laugh happier than usual. I feel a little more happier, a little less sadder, a big amount of thankfulness to God.
Time heals. Truly. Really. Indubitably. Never have I doubt I ain't going to be okay in the end, or I will never be okay. Never. Never in a million times I speak to myself that I will recover. And guess what? It works. The power of believing in miracles. I sound like a hypocrite, I know. I am not a motivator in a nutshell, will never be. But I went through this phase already and I am telling you all that all of you are going to be okay. It's just a matter of time.
I keep this in mind, all the time, "When something/someone left, God is going to replace it with something/someone new" hopefully to something better. Now I am having a very peaceful inner self. Not worried, yet merry.

Monday, October 30, 2017

Oh, adulthood

I can't say no to this:
Entah ini stabilitas emosi gue yang lagi keganggu karena perihal bulanan perempuan, atau emang sebenernya mungkin mental gue yang sekarang lagi nggak sehat, tapi akhir-akhir ini gue ngerasa banget akan dinamika emosi gue yang semakin aneh. I mean aneh, karena previously, gue ngerasa gue sehat secara mental, stabil, mateng, bahagia. But then, I cracked up yesterday. Perihal suatu hal yang gue pikir, it shall not bother me anymore. Bicara hal ini jauh dari perihal agama, I mean, gue di satu sisi nggak getol-getol amat berdoa untuk minta diteguhkan di atas suatu kebenaran, karena menurut gue, I can handle it by myself. Tapi at some point, gue kecewa lagi dan lagi. Mungkin di situ juga gue diingetin kalo gue nggak ada kekuatannya dibanding Sang Pencipta. Tell me I'm right, right?

Setelah curhat ke beberapa orang (I can barely handle myself to keep it only to myself), I got one certain answer that I finally could keep in mind, which is, stop questioning. Iya, stop questioning hal-hal yang emang nanti bakal mengganggu kebahagiaan hidup gue, ketenangan hidup gue, hal seperti itulah. Bahasa sekarangnya, "gak usah kepo". That's it. I know from the very start kalo gue gak perlu tau lebih lanjut lagi. Kasarnya, berlakulah secuek yang gue bisa. Secuek gue biasa. Or at least, if I couldn't make it, fake it til I make it. Itu prinsip gue pribadi.

Menimbang-nimbang hal yang udah gue lewatin, siang dan malam yang gue abisin buat nangisin hal kayak gini, sakit hati karena ternyata realitanya nggak sesuai sama angan-angan gue, bikin gue banyak merefleksi apa yang sebaiknya gue lakuin ke depannya. Banyak juga yang sebenernya gue lakuin di saat gue jatoh kayak gini. This is my very first time being like this. If being an adult means going through this phase, then I'm ready to embrace my hopefully bright future ahead.

Salam

Tuesday, August 15, 2017

Aduh

Gue emang gak sepatutnya nulis begini di sini. Kalo kata Amel, kita (gue dan temen-temen ETF gue) bukan lagi mau ngadepin perang sama Israel, melainkan ini hal yang bisa diselesain. Sepatutnya, kuliah itu aktif sejadi-jadinya yang kita bisa. Tapi tolong, jangan gegabah. Sejauh ini gue cuma ikut 2 organisasi dan aktif di keduanya.

Gue semacam punya love-hate relationship sama yang namanya proses. Ada jatuh bangun di dalemnya. Gue suka proses karena no matter what, it will take you to the ending. Gue benci proses karena lo gak punya ide tentang apa yang bakal terjadi ke depannya, segimanapun kalian berangan-angan dan persiapin sedini mungkin.

Yang sekarang gue hadepin adalah ngebersihin semacam sisaan/bekasan kotoran orang. Iya, semacam itulah kasarannya. Dari bersihin bekasan itu, gue lagi belajar tentang teamwork, belajar mengontrol emosi, belajar banyak hal baru yang sebelumnya nggak pernah gue dapetin karena gue yang extra pemalas.

Intinya sekarang adalah gue pengen banget balik ke rumah, merasakan liburan yang sesungguhnya tanpa harus ngurusin tetek bengek kehidupan non kampus, mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari yang biasanya gue jalanin sekarang. Kadang gue pengen cepetan aja semester 5. Biar cepet aja. Cepet lulus. Aamiin.

Thursday, July 27, 2017

Jadi OC ETF AIESEC

Setelah sekian lama nggak nulis karena perihal males (karena gue gak pernah ngerasa sibuk, sesibuk-sibuknya gue masih bisa gegoleran), akhirnya nulis lagi. Kali ini, sebenernya gue pengen banget cerita banyak hal yang udah gue lewatin selama libur kuliah ini. Libur kuliah gue dibilang produktif ya produktif, sih, karena ternyata, project AIESEC yang lagi gue pegang ini super seru. There'll always be chaotic conditions where we can't handle the pressure, tapi baru 1/8 perjalanan aja, gue udah seneng banget.
Ekspektasi gue banyak. Ketemu temen baru, punya pengalaman organisasi, ngajar, self development skill, dan lain-lainnya. Gue belom ngerasain banget sih ada perbedaan dalam diri gue dari gue ikut project ini. Harapan gue nggak muluk-muluk sebenernya, buat menjadi pribadi yang lebih baik dan ngasih impact positif ke orang sekitar, dan orang senang akan apa yang gue kasih, dan juga berguna buat mereka, jadi pahalanya ngalir terus. :)
Gue belajar banyak hal. Cuma itu nggak membuat gue cukup cerdas untuk menyadarkan gue dengan situasi dan kondisi yang gue hadapin sekarang. Pokoknya, whatever riddles I'm facing, I'm gonna keep it to myself and challenge myself to do more. Harusnya gue udah nargetin dari awal ya sebenernya di tahun ini gue mau achieve apa, dan alhamdulillah ada yang udah gue bisa capai, alhamdulillah nya lagi gue bisa nambahin keinginan-keinginan gue di hampir penghujung tahun. Nggak apa-apa, nggak ada kata telat buat belajar, bener kan?
Terus gue beruntung banget punya orang tua yang suportif. Gue (dan teman-teman gue, biar gak terkesan egois) rela-relain motong liburan kuliah 3 bulan buat ngerjain project ini, dan hasilnya? Gue super suka. Menurut gue, mungkin mereka berpikirnya selama itu positif dan tidak "membabukan" gue, then they're fine. And truth be told, AIESEC sama BEM/HMJ itu beda banget dan gue pada akhirnya jatuh cinta sama AIESEC. Maha besar Allah yang membolak-balikan hati.
Sebenernya tanpa harus exchange ke luar negeri mahal-mahal (uang gue BELUM banyak) (omongan adalah doa) (jangan bilang "uang gue gak banyak"), jadi OC project juga udah lumayan banget kok. Tapi gue personally jadi pengen sih nyoba exchange, tapi apadaya kalo nanti malah nggak lanjut kuliah, hadeuh, naudzubillah.
Intinya, gue super sangat bersyukur sama kegiatan yang sekarang gue jalanin. Ngerasa dibebani, ya, terkadang, karena harus bangun pagi dan EP pada tepat waktu semua. Salah satu yang perlu gue ubah adalah pola tidur gue, tidur super kebo ini andalan banget sebenernya. Tapi gue selalu ngerasa ngantuk dan ngantuk, all over again.