Sunday, July 27, 2014

Late night confession

I just had a very serious conversations with my cousin, Mbak Caca. She's a future diplomat. She'll be studying International Relations at Universitas Gadjah Mada, starting in August. I'm not gonna make it arrogant or more, but here we are.
We had a very interesting topic to be talked, it was about "Own an account on social medias". She told me, one of our cousin asked her "Caca, do you have Path?" "Nope, what is that for." She does know what Path is. It also happened to me a few days ago. The same cousin asked me about the Path account. Well, I Hused to have a Path account, but 11 months later, I deleted it. Do you know why? Because I thought I've been spending my time on something that doesn't worth it.
Caca been told that Path has functions like "Update where you are, what you're doing, who you're with" and many more. This is what we're dealing with. We think it's useless. All social medias are mostly useless. Well, not really. If you're using it with any important reason which is reasonable, then it's not.
Caca told me, teenagers nowadays are now in the process of being destroyed. I also ever read an article, social medias which are booming nowadays is one of infinity ways to ruin young generation. Teenagers mostly prefer being update on social medias, gaining gossips than read books or even do a homework, including me. I've been wasting my time on shits like that. I 100% believe that books are better than ever. Even though Internet has everything that books don't have, but Internet does have a sense of addicting in it, which is worse. It's addicting being online for hours. It's addicting to share shits on Twitter, Facebook, Path, and else. I do miss those old days when I didn't know Internet exist. All I know was a computer with games, lots of games.
Have I spilled my confession? The point is, we better think twice of owning account on social medias, because once you touched it, it will be forever addicting and when you can't stop it, you're in danger. Thank you.

Once again, it's up to you. This is just a very late night confession that I made. If you're feeling offended, I didn't mean to. It's just my thoughts. Once again, I'm not offending anyone. It's just me and my thoughts.







P.S:  I know I'm very pretentious, but I'm here, sharing my kinda mature thoughts, and I'm happy with it. I'm happy to not be called "gaul" because the word gaul is no longer positive. What "gaul" nowadays means attending parties/DJ concerts, wearing unusual clothes, owning social medias account, and everything-that-so-hype. 

Saturday, July 26, 2014

Salah beli buku

This is what happening right now. 50 Shades of Grey will be on theaters in February 2015. Guess what? I'm excited. I AM EXCITED OF IT. Truth be told, I have the novel. I didn't even know it's an erotic novel written by E. L. James. When I surfed the Internet about it, as I read the synopsis, I'm interested to buy it. Dari sinopsisnya gak menunjukkan sama sekali sensuality. Maafin, tapi karena synopsis nya bagus jadi tertarik buat beli. Dibolehin sama Papa, dibayarin sama Papa, yaudah, baca deh. Kan bukunya harganya....priceless lah. 
I bought the novel pas kelas 9!! Terus I proudly showed it to public, dengan gue langsung baca bukunya ditengah keramaian mall. I felt people kept their eyes on me (YAIYALAH). Tapi serius deh, awalnya menarik, terus kan synopsis nya gak mengundang gitu, ya gue semangat. Eh, gue cerita ke temen gue, terus katanya itu novel dewasa yang bener-bener dewasa!! Kaget? Banget. "Emang lu gak diliatin sama mas-mas kasirnya apa?!" tanya seorang temen gue yang kaget. "Nggak tuh" jawab gue. Kayaknya mas nya juga gatau deh itu novel dewasa. Atau karena waktu itu Papa gue yang bayar, jadi dia gak heran. Padahal disebelah Papa ada gue. 
Pas gue cari-cari infonya lagi di internet, ya....emang iya, novel dewasa banget-banget. Tetep ajatuh gue lanjutin, gue bawa ke sekolah, bangga banget buset punya buku baru. Pas akhirnya dimana udah ada part dimana udah gak boleh disentuh sama gue, udah jenuh juga (secara, bukunya tebel, dan gue gak betah baca buku lama-lama), terus yaudah deh. Bukunya berdebu sekarang. Gak lah, waktu itu sempet dipinjem guru les gue, terus katanya dia buka page nya random, terus dia....jijik. Dan she recommended me to read it when I'm 17+. Well, I'm not sure I'll continue it. Terus gue merasa bersalah sama Papa gue, padahal dia juga gatau kalo itu novel dewasa. Maksudnya, novelnya gak gue baca lagi. Berarti ini tandanya, gue harus lebih hati-hati dalam membeli novel. Jadi, semenjak saat itu, gue mulai beli novelnya Jacqueline Wilson (lagi) yang dimana ketauan bahwa itu adalah novel yang genre nya cocok buat seumuran gue. Yaiyalah, jelas, kan cover bukunya aja udah lucu-lucu gitu. Jadi gausah takut beli novel lagi. Dan pasti isinya seru dan gak menjurus. Setidaknya, gue masih bisa menikmati novel bahasa Inggris tidak mengandung hal jorok wkwkwk. Terus, kayaknya dari situ juga, gue mulai tertarik buat baca buku non-fiction, yang tapi belum terwujudkan buat beli. Dan pastinya, itu berat jugasih. Otak gue tidak senada dengan bukunya, berat. But I'll try. 
Jadi inget, dulu juga gue sok-sokan beli buku berbahasa Inggris dengan cover animasi. Dulu masih SD belinya, gue kan sotil dulu, terus gue asal ambil aja, liat covernya, ngerti artinya beberapa, ambil aja pokoknya. Pasti kalo beli buku selalu dibolehin. Pas udah beli, gue baca pas sampe rumah. Bukan bermaksud SARA, tapi ternyata isinya tentang Isa Almasih. Gue....kaget. Gue kira itu buku tentang apa, ternyata tentang kebaikan Isa Almasih (lupa-lupa inget sih, tapi pokoknya langsung gak gue lanjutin). Langsung gue tutup bukunya, gue simpen dibawah tempat tidur...gue takut. Gue merasa bersalah banget. Mana harganya mahal. Iya, gue nyusahin banget emang. Tau dah. Udah gitu, gue bingung, ini bukunya mau diapain, masa mau gue simpen sampe gede, gak bisa. Nanti kalo ketahuan, terus dimarahin, kan serem. Yaudah tuh, akhirnya setelah sekian lama, memutuskan untuk ngasih bukunya ke temen yang Kristiani. Pertamanya gak ikhlas, soalnya bukunya mahal. Terus pas gue kasih, dia seneng. Yaudah lega, akhirnya gue tau gimana cara untuk melepas penyesalan, walau pertama gak ikhlas, tapi lama-lama ikhlas kok. Sekarang bukunya masih disimpen gak ya? Gak yakin sih, soalnya juga itu udah lama banget. Hffff. Pokoknya 2 pengalaman tadi itu pelajaran setimpal banget buat gue yang sotil dan males. Berdoa aja pas nanti beli buku non-fiction gak salah. :") 

Tuesday, July 15, 2014

Seniority in Indonesia

Gue harus setuju sama pernyataan tentang senior sma (mostly) itu gila hormat. I have just started my sophomore year from yesterday. I remember how pathetic I was when it comes to orientation week. SMA gue merupakan sebuah instansi dimana yang para muridnya sudah teriorientasi untuk dendam sama adek kelasnya, walaupun mungkin nggak semua. Dulu, gue terbebani banget pas mos, karena tugasnya emang lumayan berat, terus senior nya nyebelin (banget!). Sampe kesel sendiri, tapi nganggepnya mereka lucu aja, masuk kelas, banting pintu, marah-marah, ain't got any sense, at all. Sudah gue sadari, semenjak gue smp, ketika gue jadi senior, pas kelas 8, ada anak kelas 7 masuk. Beberapa temen gue ada yang menilai bahwa adek kelas ada yang kurang ajar. Setiap senior yang punya adek kelas, beberapa menilai bahwa junior nya itu songong. Setiap senior pasti menilai adek kelasnya kurang ajar, entah dari sisi mana. Gue bodo amat dia mau kayak gimana, kecuali kalo dia ganteng, ya siap-siap aja lo gue usik. Gak deng.
Ketika sma, semuanya berubah jadi sebuah kehidupan yang keras, dan alhamdulillah gue gak pernah keusik sama yang namanya senioritas, karena juga gue menjauhi. Being a senior doesn't mean you can act freely, lo bisa semena-mena, yang sebagaimana dapat dibilang, lo dendam sama kakak kelas lo, dan lo mau melampiaskannya to our next generation. Sungguh, apakah lo pernah dapet maslahat dari senioritas itu sendiri? Oh gue tau, anak jaman sekarang, melakukan senioritasnya karena mereka merasa HARUS DIHORMATI, karena mereka lebih tua, lebih mengerti kehidupan, which is not true. 
Maaf ya, ini kenapa gue bilang sebenernya gue tau mana yang baik mana yang buruk. Karena gue tau, apa yang baik buat gue, yang harus gue lakukan, yang nantinya akan berimbas positif bagi gue, walaupun beberapa hanyalah wacana, seperti belajar dengan rajin. Maksud gue disini, gue sebagai kakak kelas, gue gak bakal mengusik kehidupan kalian, wahai adik-adik kelasku. Karena gue disini gak mau tau apa yang lo lakuin, gak mau ngurusin kalian-kalian yang out of my responsibility, yang bukan tanggungan gue di akhirat nanti, kecuali salah satu dari kalian adalah jodoh gue #eh #gelikan #maaf. 
Dan bagi generasi penerus yang seumuran gue, dan yang umurnya diatas gue beberapa tahun, tolong deh, tolong mikir, adek kelas juga gak bakal berlaku semena-mena, if you don't make senses. Jangan tengil, jangan harap adek kelas untuk menghormatin lo berlebih, kalo lo gak bisa menghargai adek kelasnya itu sendiri. Don't you wish to get a great feedback dari yang lain, kalo lo juga gak bisa memulai yang baik. Coba inget deh, lebih baik memberi daripada menerima. So, if you wish to be respected, appreciate them first. Katanya senior, berarti, think more mature, dong? :)

Friday, July 04, 2014

Definitional's 5th Party

Yesterday was definitional's 5th party which was held at Dita's home. How was it? No, I can't describe you in words, you just need to be me, to know how it felt. It was more than great, fun, yet so exciting and all. Definitional is the 2nd rsbi batch in pbsiijhs. Angkatan rsbi yang menurut gue itu gak neko-neko, terus anak-anaknya tau batas dan umur. Mainan kita gak sotr atau apapun, mainan kita cuma 1, makan-makan. Because we love foods. ;) That's why I love every pieces of it, maksudnya cinta definitional from head to toes, from low to high, from every moves. Orang-orangnya lovable, insane, dan kompak (as you can see..?) Oh how I love definitional so much.
Kalo boleh diceritain awal mulanya terbentuk definitional, we were consist of 3 international class, yang mana setiap kelas cuma maximal itu muridnya 20ish. Paling banyak pernah sampai 25 sih. Jadi, nama definitional itu merupakan gabungan dari d e f international. Kelas kita pasti around d, or e, or f. And luckily, I've tried all the alphabets, maksudnya, waktu kelas 7, gue 7F, kelas 8, 8E, kelas 9, 9D. And every class has its own greatness.
Back to the topic, jadi ini adalah def's party kelima, dan semua party nya seru dan ini seru banget banget. Soalnya I met people yang udah lama beneran gak ketemu, dan I missed them! Really. Pertamanya, untuk kerumah dita, gue, Nano, dan Putri janjian di mall graha (asyik) untuk berangkat bareng. Mereka berdua juga mau beli film dulu, sih, jadi yaudah deh, sekalian nemenin beli film juga, wlaupun pertamanya dikerjain (yaudah, sabar aja ya nak.) Selesai beli film, kita langsung pergi kerumah dita, mau tau naik apa? Iya, jalan kaki. Berhubung deket dan olahraga (elah.) Dan akhirnya, sampaaai!
Pas udah sampe, kita langsung masuk, eh tapi sapa-sapaan dulu sama semuanya, terus masuk ke rumah dita, mencari rjfc (harus banget bro.) Efek yang dirasakan setelah berjalan kaki sejauh itu (lebay, maaf) adalah kepanasan. Akhirnya, fan yang tadinya buat ngipasin orang kita arahin ke gue, Nano, dan Putri doang. Hahaha, maaf ya semuanya. Udah deh, setelah itu ngobrol-ngobrol, terus ada tamu jauh dateng, ngobrol-ngobrol sampe adzan Maghrib berdendang, akhirnya kita semua buka puasa. Sambil makan-makan ta'jil, terus ngobro lagi, terus akhirnya sholat Maghrib. Gue ikut ronde ke berapa ya, pokoknya diimamin oleh Kiky, yang ujung-ujungnya gue ikut pas rakaat ketiga. Yaudah, yang penting sholat.
Setelah sholat, kita makan besar, makan kfc (besar kan?), terus selepas makan, foto bareng seangkatan, setelahnyaaaaa, main petasan, terus pulaaaang >_<
Happy day indeed! Thank you, loves ♥