Tuesday, August 12, 2014

Senior life

This is a dedication post for seniors out there,
Me, as a not-so-new junior want to tell you....


Halo senior yang sekarang udah gak punya kakak kelas lagi! Enak ya, gak punya kakak kelas, dunia serasa milik seangkatan aja. Mau diatur siapa ya kalian udah kelas 12, enak, paling tua. Inget deh, kalo tambah tua, berarti kesempatan hidup kita semakin sedikit, jadi kalo kalian makin dewasa makin gak bener, inget umur aja. Umur gak ada yang tau sebenernya.

Kalian seru ya, punya adek kelas bisa disewotin sana-sini, dilabrak setiap hari juga bisa, karena dimata kalian, junior itu selalu salah, mana ada junior yang bener, iya gak sih? Kalian pasti setiap hari bercermin, tapi kalian cuma bisa liat bayangan kalian saat itu juga, bukan bayangan yang lalu.

Kalian berpikir bahwa angkatan saya itu semena-mena, banyak gaya, tidak tahu sopan santun. Katanya, katanya sih, mau memberi contoh yang baik sebagai senior, tapi apakah kalian tahu, kalo kita dulu juga perhatiin kalian, kalo kalian ternyata sebenarnya gak benar, dalam artian, kalo mau dijadikan contoh/panutan bagi adik kelas, kalian harus sajikan yang terbaik. Kalian pikir, menjadi panutan itu gampang?

Beberapa teman di angkatan saya sebenarnya tidak ada masalah dengan kalian, apalagi dengan cara mewarnai rambut menjadi warna coklat terang, merah, dsb. Kenapa kalian marah? Takut kalah saing? Bukannya akan selalu ada yang lebih baik daripada kalian, lebih cantik, lebih pintar, lebih segalanya, tetapi hanya seseorang yang baik pula akan melihat kamu apa adanya, tidak menuntut kamu lebih.

Ingat deh, hidup itu akan terus berjalan sebagaimana mestinya. "What goes around, comes back around". Saya cuma mau ingetin aja, jangan kalian merasa sudah menjadi senior yang tidak lagi memiliki kakak kelas, menjadi semena-mena, bisa melakukan apa yang kalian mau, seenaknya. Saya, sebagai junior kalian, memilih diam. Saya tidak memberi sebuah "like" pada answers kalian di ask.fm karena saya tidak punya ask.fm, lalu, saya tahu, menindaklanjuti perbuatan kalian lewat sosial media itu semacam tidak berguna, buat kesel sendiri, dan ya, kalian pasti ngerasa bener, jadi, kalian yang mau melabrak teman-teman saya yang lainnya, coba berpikir dewasa. Tindakan adalah cerminan dirimu.

Terima kasih.

P.S: What a great-good-girl I am! For seniors out there, if you read this, and you wanna do the same, please highlight my message. I AIN'T gonna take your sins, but I'm telling you to be the best. Oh geez, I'm pretentious.

Saturday, August 09, 2014

ASOS + Love Life

Have been scrolling through asos's website and you know what I want? A bunch of blazers!! Uh yeah, this is what I crave for. Ini adalah minggu2 terberat dimana I want to buy everything!! Dari makanan, baju, sepatu, I want them all! I know somehow I ain't grateful, tapi ini jarang2 kok.





Selera gue emg that simple, my fashion taste isn't that good, tho. Hfffff, yg penting ini lucu semua. Huah, tolong beliin ya, free shipping kok ke Indonesia :*. Tambah lagi, sunnies nya juga lucu2 sangaaat! Bisa dilihat di website nya. Ulang tahun gue 16 Oktober, if you don't mind....*fill it by yourself*
.
.
.
.
.
Talking about love life, sebenernya you guys can called it I'm "kasmaran". Sounds ludicrous, huh? Gue lg di tahap apanih namanya ya, i don't even know the love stage. Kayaknya gue lg di stage "dia tau gue gak ya?" HAHAHAH pathetic enough. Tunggu2, gue kalo suka sama orang tuh jarang bgt sampe lama. Kalo lama namanya.....cinta (iiih). Geli kan geli kan, gue juga. Gue gak picky, tapi bosenan, yaudah maaf. Tapi kayaknya yg ini beda, eaaaaaaa. Entahlah, kok gue ngerasa kayak dia tau gue (lah geer). Yah, yaudah, doain aja setiap sholat (eeeee)





"Gak usah memiliki, deh. Doakan yang terbaik aja udah salah satu cara mencintai kok, dari jauh."




Ya sodara-sodara,
endes ya
endes banget
sakit gak?
Aku berdoa aja biar kamu kenal aku,
terus kita kenal. 
Yaudah sih itu aja.
Selebihnya liat aja.
HAHAHAHAHA mewek idih

Sunday, July 27, 2014

Late night confession

I just had a very serious conversations with my cousin, Mbak Caca. She's a future diplomat. She'll be studying International Relations at Universitas Gadjah Mada, starting in August. I'm not gonna make it arrogant or more, but here we are.
We had a very interesting topic to be talked, it was about "Own an account on social medias". She told me, one of our cousin asked her "Caca, do you have Path?" "Nope, what is that for." She does know what Path is. It also happened to me a few days ago. The same cousin asked me about the Path account. Well, I Hused to have a Path account, but 11 months later, I deleted it. Do you know why? Because I thought I've been spending my time on something that doesn't worth it.
Caca been told that Path has functions like "Update where you are, what you're doing, who you're with" and many more. This is what we're dealing with. We think it's useless. All social medias are mostly useless. Well, not really. If you're using it with any important reason which is reasonable, then it's not.
Caca told me, teenagers nowadays are now in the process of being destroyed. I also ever read an article, social medias which are booming nowadays is one of infinity ways to ruin young generation. Teenagers mostly prefer being update on social medias, gaining gossips than read books or even do a homework, including me. I've been wasting my time on shits like that. I 100% believe that books are better than ever. Even though Internet has everything that books don't have, but Internet does have a sense of addicting in it, which is worse. It's addicting being online for hours. It's addicting to share shits on Twitter, Facebook, Path, and else. I do miss those old days when I didn't know Internet exist. All I know was a computer with games, lots of games.
Have I spilled my confession? The point is, we better think twice of owning account on social medias, because once you touched it, it will be forever addicting and when you can't stop it, you're in danger. Thank you.

Once again, it's up to you. This is just a very late night confession that I made. If you're feeling offended, I didn't mean to. It's just my thoughts. Once again, I'm not offending anyone. It's just me and my thoughts.







P.S:  I know I'm very pretentious, but I'm here, sharing my kinda mature thoughts, and I'm happy with it. I'm happy to not be called "gaul" because the word gaul is no longer positive. What "gaul" nowadays means attending parties/DJ concerts, wearing unusual clothes, owning social medias account, and everything-that-so-hype. 

Saturday, July 26, 2014

Salah beli buku

This is what happening right now. 50 Shades of Grey will be on theaters in February 2015. Guess what? I'm excited. I AM EXCITED OF IT. Truth be told, I have the novel. I didn't even know it's an erotic novel written by E. L. James. When I surfed the Internet about it, as I read the synopsis, I'm interested to buy it. Dari sinopsisnya gak menunjukkan sama sekali sensuality. Maafin, tapi karena synopsis nya bagus jadi tertarik buat beli. Dibolehin sama Papa, dibayarin sama Papa, yaudah, baca deh. Kan bukunya harganya....priceless lah. 
I bought the novel pas kelas 9!! Terus I proudly showed it to public, dengan gue langsung baca bukunya ditengah keramaian mall. I felt people kept their eyes on me (YAIYALAH). Tapi serius deh, awalnya menarik, terus kan synopsis nya gak mengundang gitu, ya gue semangat. Eh, gue cerita ke temen gue, terus katanya itu novel dewasa yang bener-bener dewasa!! Kaget? Banget. "Emang lu gak diliatin sama mas-mas kasirnya apa?!" tanya seorang temen gue yang kaget. "Nggak tuh" jawab gue. Kayaknya mas nya juga gatau deh itu novel dewasa. Atau karena waktu itu Papa gue yang bayar, jadi dia gak heran. Padahal disebelah Papa ada gue. 
Pas gue cari-cari infonya lagi di internet, ya....emang iya, novel dewasa banget-banget. Tetep ajatuh gue lanjutin, gue bawa ke sekolah, bangga banget buset punya buku baru. Pas akhirnya dimana udah ada part dimana udah gak boleh disentuh sama gue, udah jenuh juga (secara, bukunya tebel, dan gue gak betah baca buku lama-lama), terus yaudah deh. Bukunya berdebu sekarang. Gak lah, waktu itu sempet dipinjem guru les gue, terus katanya dia buka page nya random, terus dia....jijik. Dan she recommended me to read it when I'm 17+. Well, I'm not sure I'll continue it. Terus gue merasa bersalah sama Papa gue, padahal dia juga gatau kalo itu novel dewasa. Maksudnya, novelnya gak gue baca lagi. Berarti ini tandanya, gue harus lebih hati-hati dalam membeli novel. Jadi, semenjak saat itu, gue mulai beli novelnya Jacqueline Wilson (lagi) yang dimana ketauan bahwa itu adalah novel yang genre nya cocok buat seumuran gue. Yaiyalah, jelas, kan cover bukunya aja udah lucu-lucu gitu. Jadi gausah takut beli novel lagi. Dan pasti isinya seru dan gak menjurus. Setidaknya, gue masih bisa menikmati novel bahasa Inggris tidak mengandung hal jorok wkwkwk. Terus, kayaknya dari situ juga, gue mulai tertarik buat baca buku non-fiction, yang tapi belum terwujudkan buat beli. Dan pastinya, itu berat jugasih. Otak gue tidak senada dengan bukunya, berat. But I'll try. 
Jadi inget, dulu juga gue sok-sokan beli buku berbahasa Inggris dengan cover animasi. Dulu masih SD belinya, gue kan sotil dulu, terus gue asal ambil aja, liat covernya, ngerti artinya beberapa, ambil aja pokoknya. Pasti kalo beli buku selalu dibolehin. Pas udah beli, gue baca pas sampe rumah. Bukan bermaksud SARA, tapi ternyata isinya tentang Isa Almasih. Gue....kaget. Gue kira itu buku tentang apa, ternyata tentang kebaikan Isa Almasih (lupa-lupa inget sih, tapi pokoknya langsung gak gue lanjutin). Langsung gue tutup bukunya, gue simpen dibawah tempat tidur...gue takut. Gue merasa bersalah banget. Mana harganya mahal. Iya, gue nyusahin banget emang. Tau dah. Udah gitu, gue bingung, ini bukunya mau diapain, masa mau gue simpen sampe gede, gak bisa. Nanti kalo ketahuan, terus dimarahin, kan serem. Yaudah tuh, akhirnya setelah sekian lama, memutuskan untuk ngasih bukunya ke temen yang Kristiani. Pertamanya gak ikhlas, soalnya bukunya mahal. Terus pas gue kasih, dia seneng. Yaudah lega, akhirnya gue tau gimana cara untuk melepas penyesalan, walau pertama gak ikhlas, tapi lama-lama ikhlas kok. Sekarang bukunya masih disimpen gak ya? Gak yakin sih, soalnya juga itu udah lama banget. Hffff. Pokoknya 2 pengalaman tadi itu pelajaran setimpal banget buat gue yang sotil dan males. Berdoa aja pas nanti beli buku non-fiction gak salah. :")