Wednesday, July 25, 2018

Panggung Orang Dewasa—Prolog Hidup Saya

Ini life crisis kedua. Bukan perkara mencari gelora. Bukan tentang hidup mau jadi apa. Itu sudah reda. Sepertinya sudah reda. Ini perkara aku ini manusia apa, manusia yang mau membawa hidup ke depannya dengan cara apa. Mau bertahan hidup dengan apa. Melepaskan diri dari keinginan dunia, mengerucutkannya menjadi kebutuhan negeri fana. Hah, dramatis.

Pertama-tama, keinginan untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri dengan keringat sendiri, mengingat umur sudah hampir menginjak 20 tahun dalam kurang dari 3 bulan pula. Mulai malu akan mengemis akan lembaran-lembaran merah, biru, hijau yang ada di tabungan orang tua. Mereka saja bisa menyimpan harta untuk menyekolahkanku sedemikian rupa, mengapa aku yang notabenenya masih tinggal bersama, tidak mampu menyimpan apa yang sebenarnya pun juga masih milik mereka?

Pilihan datang silih berganti. Namun, selimut ketakutan selalu menutupi dan ego tinggi masih susah diperangi. Ini menyoal tentang harga diri. Padahal, di mata sang ilahi, semua simetri. Manusia dan perangai tidak bisa dicerai.

Kembali melihat keadaan. Bersyukur dengan adanya kawan. Saran darinya selalu menenangkan. Mengembalikan kesadaran yang seman. Terima kasih, taulan.

Ditambah kecilnya kota yang sekarang aku tinggali, membuatku ingin lari, mencari sisi luar yang tak ada terminasi, membuatku meminta kepada sang Maha Pemberi, untuk keluarkan aku dari sini, bawa aku ke dunia yang menyepakati ilusi.










P.S.
Kalo galau kok jadi begini. Galaunya sekarang menyoal kehidupan, dewasa belum ya? Belum, masih berantem sama ibunda perihal telat mandi.

Saturday, June 23, 2018

Is this a comeback

Hampir 4 bulan lamanya nggak nulis. Sekarang baru mau nulis lagi karena kemaren nggak punya bahan seru buat ditulis. Topik tulisannya nggak jauh-jauh dari rentetan cerita kehidupan pribadi yang sebenernya selama beberapa bulan terakhir ini datar-datar aja.


Dimulai dari memulai semester 4 kemarin yang secara tidak disadari matkul nya enak semua, kecuali komunikasi antar pribadi. I hate psychological stuffs, how do people able to diagnose others' traits, meanwhile for me, human is the most complex creature ever created? Makanya dapet C+ (hahahaha, semua orang harus tau betapa buruknya gue menghadapi orang lain). Yet I didn't expect much jadi why would I be sad about that though.


Kemudian, mulai semester kemaren, gue berhenti berhubungan dengan beberapa orang yang tadinya sangat dekat di kampus (wow) karena satu dan lain hal. Tapi sekarang udah membaik sih, efek abis lebaran, udah saling minta maaf. Kalo udah ada kata maaf, perlunya di lain waktu itu adalah berhati-hati biar lain kali nggak masuk ke lubang yang sama. Ya, siapa yang mau coba? Kecuali lubangnya isi Disneyland, gue mau kok berulang kali masuk. Tapi ada juga specific person yang diri gue bahkan berjanji untuk nggak pernah menggubris (dengan harapan nggak digubris balik) agar supaya kita tetap menjalankan hidup sebagaimana kita terakhir kenal alias nggak usah kenal lagi deh hehehe. Emang asshole banget ya gue, biarin.


Masuk semester baru (not yet), tapi gue udah mulai bosen sama kampus, sama orang-orangnya. I have my best adventure, sih, di waktu kuliah ini. Belajar mengambil keputusan sendiri, belajar ngapa-ngapain sendiri, belajar nggak menggantungkan diri ke orang lain selain abang Gojek/Grab (karena gue gak punya motor), belajar mencintai tempat yang ternyata jawaban dari doa gue (percaya nggak, gue pernah berdoa untuk keluar dari kota tempat gue lahir & dibesarkan karena gue nggak pernah ngerasain namanya pindah rumah, terus dapet kuliah di luar kota, sedih apa seneng nih ya?), intinya sih, proses pembelajaran, apapun itu yang dipelajarin.


Tambahan, gue tadinya menganggap semua orang itu baik (atau gue emang dipertemukan dengan yang baik-baik aja?) Sampe pada akhirnya, titiknya itu di awal semester 4, teori buatan gue sendiri itu dipatahin sama pengalaman gue sendiri ahahahahaha. Begitu deh. Kalo gue boleh playing victim, mulai semester 4 kemarin, gue nggak percaya sama empati. Menurut gue, orang-orang berempati ya cuma karena merasa itu sebuah formalitas aja tapi nggak bener-bener mengamalkan itu. Wah, gila deh, padahal di semester ini juga, gue banyak dihadapin sama orang-orang baik, tapi gue kemudian mikirnya kayak, "Yaudah, mereka cuma basa-basi. Jangan percaya gitu aja." Gue nggak tau bedain yang bener mana dan yang nggak mana, jadi gue anggep aja semua orang jahat wkwk. Salah banget ya.


Makin tua, makin kompleks juga jalan pikir (semoga jalan hidup semakin mulus wkwk.) Gue sekarang tau, sih, friends whom I can count on, berarti gue juga harus percaya kalo mereka beneran berempati sama gue (semoga aja.) Semoga aja juga, semakin bertambahnya umur, gue semakin tau mau dikemanain hidup ini dan semakin menemukan kebahagiaan in the simplest, smallest form.


Salam, 


Nabila yang sedang mengelu-elukan lautan biru.

Saturday, February 24, 2018

Significant changes in life, no?

Akhirnya punya sebuah bahasan buat ditulis, walaupun selalu personal things, gak pernah sesuatu yang bermanfaat untuk belahan dunia manapun. Ini sebenernya sebuah renungan ketika gue di kamar doang, gak ke mana-mana, gak ada janjian main dengan siapapun, murni pengen sendiri dan mengurangi intensitas ngobrol sama orang, karena akhir-akhir ini gue lagi nyaman sendiri, entah kenapa.

Ini belum bulet sebulan semester 4, tapi gue udah lumayan mengalami turun-naik. Mulai dari mood, sampe kesibukan. Setelah tadinya berkutat di 2 organisasi yang satunya merupakan kecintaan gue, yang satunya lagi, ya lumayan lah, tapi nggak bisa dibilang kecintaan juga, sih, akhirnya, dengan segala pikir matang, segala malem yang gue habisin buat galauin hal ini (gak bitter lah ya), akhirnya, gue memutuskan untuk melepaskan diri dari jeratan salah satunya. Sebenernya ada cerita panjang tentang kenapa akhirnya gue rela melepaskan diri dari sana, perihal dua atau lebih hal, tapi gue gak menyesal, semoga.

Sebenernya awalnya gue mikirin koneksi gue ke depannya gimana, tapi I'm still having a very nice relationship between me and them, jadi gue gak ambil pusing. Sebenernya gue sempet gak kepikiran untuk yang namanya leyeh-leyeh di semester ini, tapi gue sendiri juga nggak menyanggupi ngejalanin apa yang sebenernya bukan menjadi prioritas awal gue. Ketika gue ngerasa, "Kok gue lowong banget sekarang, kemaren ikut 2 organisasi, sekarang cuma 1, nggak berasa apa-apanya" di saat itu pula gue lupa kalo gue punya kewajiban untuk kuliah. Gue lupa sama tugas. Lalu langsung nyebut-nyebut minta maaf, lupa kalo belom ketemu masa-masa UTS & UAS aja, jadi berani ngomong begitu.

Perubahan signifikan yang gue rasain di semester ini lebih kepada hubungan gue dan keluarga gue. Dulu, semester 1-3, gue jarang banget yang namanya telfonan sama Ibu & Bapak gue. Bisa dihitung pake jari, sih. Kalo menjadi sadar kalo keluarga adalah fondasi dari segalanya dan keinginan untuk tinggal bersama dengan mereka dan semakin nggak rela buat tinggal jauh-jauh dan mulai kepikiran gimana caranya bales budi secepat mungkin (kebanyakan dan) merupakan salah satu bentuk pendewasaan, then call me a young adult. Mungkin karena gue juga yang kemaren sempet sakit pas di rumah dan pas balik ke Malang, mungkin orang tua gue juga ngerti kali ya, gue emang gak bisa ngerawat diri (atau lebih bagusnya, gue gak bisa tinggal jauh-jauh dari orang tua).

Mulai hari ini juga, gue mulai berjanji sama diri sendiri, supaya gak bergelut di diri gue yang bitter kayak saban hari. Gue semacam mau buka lembaran (ok, geli) baru terhadap diri sendiri walaupun ini udah di penghujung Februari tapi gak ada kata telat, apalagi buat sebuah perubahan baik, iya kan? Toh lagian, ini buat kebaikan diri sendiri. Kalo kata quotes, you don't have to wait for Monday to restart. Gue juga mau berhenti untuk menjadi satire terhadap diri sendiri. 

Post ini berisikan tentang perubahan-perubahan yang gue alamin & rasain sendiri. Was 2018 created to self-reflect? Probably (for me). Oh iya, terus untuk nambahin kegemasan gue untuk menjadi yang lebih baik (uhm), gue beli L'art de la Simplicité by Dominique Loreau agar supaya gue terlihat pintar di muka umum gapapa, mau beli aja. Intinya suka karena baca sinopsisnya. Begitu. Yaudah, mau lanjutin nonton The Good Doctor dulu ya. Semoga weekend kalian menyenangkan, sama halnya dengan weekend ku yang sangat menyenangkan ini. 

😄

Wednesday, January 31, 2018

Have you ever felt so fed up with particular things in your life and you have no energy left to work those things out and you just leave things as they are? If you have, thank God, I am not alone.

The main point of why I pour this thing out of my mind is simply because I just can't tell nobody, I mean, specific person to talk to, I just feel like letting this out of my mind non-verbally. On my own blog. Okay. Pretty weird for those whose their blogs aren't their online diary, I see.

You know, the unusual numbers of episode of series I watch recently just made me start to contemplate about my life, my current life. I see no correlation but I guess there's just a thing where series truly affects my life. At least for now.

What I'm trying to say here, if things seem not to work out the way we want it to be, or at least we have tried to make it the way we aim it to be, but the results are just zero, it's okay to feel exhausted and to leave things as they are. Perhaps, some things are meant to be what others yearn it to be, the world doesn't only revolve around ourselves.

Monday, October 30, 2017

Oh, adulthood

I can't say no to this:
Entah ini stabilitas emosi gue yang lagi keganggu karena perihal bulanan perempuan, atau emang sebenernya mungkin mental gue yang sekarang lagi nggak sehat, tapi akhir-akhir ini gue ngerasa banget akan dinamika emosi gue yang semakin aneh. I mean aneh, karena previously, gue ngerasa gue sehat secara mental, stabil, mateng, bahagia. But then, I cracked up yesterday. Perihal suatu hal yang gue pikir, it shall not bother me anymore. Bicara hal ini jauh dari perihal agama, I mean, gue di satu sisi nggak getol-getol amat berdoa untuk minta diteguhkan di atas suatu kebenaran, karena menurut gue, I can handle it by myself. Tapi at some point, gue kecewa lagi dan lagi. Mungkin di situ juga gue diingetin kalo gue nggak ada kekuatannya dibanding Sang Pencipta. Tell me I'm right, right?

Setelah curhat ke beberapa orang (I can barely handle myself to keep it only to myself), I got one certain answer that I finally could keep in mind, which is, stop questioning. Iya, stop questioning hal-hal yang emang nanti bakal mengganggu kebahagiaan hidup gue, ketenangan hidup gue, hal seperti itulah. Bahasa sekarangnya, "gak usah kepo". That's it. I know from the very start kalo gue gak perlu tau lebih lanjut lagi. Kasarnya, berlakulah secuek yang gue bisa. Secuek gue biasa. Or at least, if I couldn't make it, fake it til I make it. Itu prinsip gue pribadi.

Menimbang-nimbang hal yang udah gue lewatin, siang dan malam yang gue abisin buat nangisin hal kayak gini, sakit hati karena ternyata realitanya nggak sesuai sama angan-angan gue, bikin gue banyak merefleksi apa yang sebaiknya gue lakuin ke depannya. Banyak juga yang sebenernya gue lakuin di saat gue jatoh kayak gini. This is my very first time being like this. If being an adult means going through this phase, then I'm ready to embrace my hopefully bright future ahead.

Salam

Thursday, July 27, 2017

Jadi OC ETF AIESEC

Setelah sekian lama nggak nulis karena perihal males (karena gue gak pernah ngerasa sibuk, sesibuk-sibuknya gue masih bisa gegoleran), akhirnya nulis lagi. Kali ini, sebenernya gue pengen banget cerita banyak hal yang udah gue lewatin selama libur kuliah ini. Libur kuliah gue dibilang produktif ya produktif, sih, karena ternyata, project AIESEC yang lagi gue pegang ini super seru. There'll always be chaotic conditions where we can't handle the pressure, tapi baru 1/8 perjalanan aja, gue udah seneng banget.
Ekspektasi gue banyak. Ketemu temen baru, punya pengalaman organisasi, ngajar, self development skill, dan lain-lainnya. Gue belom ngerasain banget sih ada perbedaan dalam diri gue dari gue ikut project ini. Harapan gue nggak muluk-muluk sebenernya, buat menjadi pribadi yang lebih baik dan ngasih impact positif ke orang sekitar, dan orang senang akan apa yang gue kasih, dan juga berguna buat mereka, jadi pahalanya ngalir terus. :)
Gue belajar banyak hal. Cuma itu nggak membuat gue cukup cerdas untuk menyadarkan gue dengan situasi dan kondisi yang gue hadapin sekarang. Pokoknya, whatever riddles I'm facing, I'm gonna keep it to myself and challenge myself to do more. Harusnya gue udah nargetin dari awal ya sebenernya di tahun ini gue mau achieve apa, dan alhamdulillah ada yang udah gue bisa capai, alhamdulillah nya lagi gue bisa nambahin keinginan-keinginan gue di hampir penghujung tahun. Nggak apa-apa, nggak ada kata telat buat belajar, bener kan?
Terus gue beruntung banget punya orang tua yang suportif. Gue (dan teman-teman gue, biar gak terkesan egois) rela-relain motong liburan kuliah 3 bulan buat ngerjain project ini, dan hasilnya? Gue super suka. Menurut gue, mungkin mereka berpikirnya selama itu positif dan tidak "membabukan" gue, then they're fine. And truth be told, AIESEC sama BEM/HMJ itu beda banget dan gue pada akhirnya jatuh cinta sama AIESEC. Maha besar Allah yang membolak-balikan hati.
Sebenernya tanpa harus exchange ke luar negeri mahal-mahal (uang gue BELUM banyak) (omongan adalah doa) (jangan bilang "uang gue gak banyak"), jadi OC project juga udah lumayan banget kok. Tapi gue personally jadi pengen sih nyoba exchange, tapi apadaya kalo nanti malah nggak lanjut kuliah, hadeuh, naudzubillah.
Intinya, gue super sangat bersyukur sama kegiatan yang sekarang gue jalanin. Ngerasa dibebani, ya, terkadang, karena harus bangun pagi dan EP pada tepat waktu semua. Salah satu yang perlu gue ubah adalah pola tidur gue, tidur super kebo ini andalan banget sebenernya. Tapi gue selalu ngerasa ngantuk dan ngantuk, all over again.

Monday, March 27, 2017

Kuliah akhir-akhir ini

Gak mau ngeluh seberapa sibuknya timeline pra produksi film gue, karena gue sangat senang disibukan dengan hal-hal yang gue senengin. Kenal orang-orang baru, belajar banyak hal seru, and the list goes on. Alhamdulillah ada peningkatan di tahun 2017, menjadi lebih produktif. Minus nya semua pada sibuk, udah gak ada jalan-jalan seru kayak waktu semester 1 lagi. There will always come the rainbow after the rain, semoga setelah kepenatan ini semua, ada liburan dari Papa. *yehehe*

Sekarang gue lagi megang 2 acara, maksudnya, jadi staff divisi dari 2 acara yang berbeda dengan divisi yang berbeda, yang bisa dibilang sangat kebalikan. Gue juga lagi apply buat jadi OC ETF 1617, doain ya :') bikin bookletnya susah, bikin CV nya last minute banget, doain keterima ya :') aamiin.

Eh, gue baru inget HAHAHAHA kalo 2 hari yang lalu, gue baru jalan-jalan bareng incomplete formation of my production team, aka cuma berempat, tapi yang foto cuma bertiga, gue, Mayunda, dan Sony. Kita pergi ke Jatim Park 1, lumayan lah ya. Abis itu ke pos ketan, lalu minum susu KUD, akhirnya terpenuhi keinginan gue buat ke pos ketan.





Gak banyak foto-foto sedihnya. Sebenernya gue pengen bangetnya ke Jatim Park 2, tapi mahal kalo weekend, sedih. Gapapa, yang penting jalan-jalan. Gue berasa mahasiswa banyak uang, deh, jalan-jalannya ke Jatim Park HAHAHA, padahal I'm broke.

Malang akhir-akhir ini hujan terus, dingin, gue sebelum mandi, kedinginan, setelah mandi kedinginan, norak anaknya, gimana di Eropa (ya Allah, mau beneran dong ke Eropa, aamiin). 

Udah ah, mau nonton film lalu beresin kamar lalu mandi. Laluuuuuuuuuu nanti sore nonton Beauty and The Beast, hamdalah.